Friday, September 18, 2015

Gadis Kecil itu adalah adikku

"AKU YAKIN, TUHAN BEGITU SAYANG DENGAN KAMU HINGGA DIA MENITIPKAN RASA SAYANG ITU MELALUI AKU"
          Setahun berlalu sudah. Ketika aku mengikuti program SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah terluar, terdepan, tertinggal) di Kabupaten Berau, Kecamatan Pulau Derawan, Kampung Tanjung Batu September 2014 - Agustus 2015. Selama setahun mengabdi di kampung itu aku mendapatkan lokasi sekolah di SMPN 6 Berau. Ada empat guru SM-3T yang ditempatkan disekolah itu, mereka adalah Norita jurusan Bahasa Indonesia, Ainun jurusan Kimia, Faiqa jurusan BK dan aku Erni jurusan bahasa Inggris. Selama mengabdi disana syukur alhamdulillah kami diberikan tempat tinggal yang sangat bagus menurutku, kami tinggal di komplek perumahan sekolah tepat di rumah dinas kepala sekolah. Rumah itu berukuran sedang dan memiliki 6 ruang: ruang tamu, dua kamar tidur, ruang tengah, dapur dan kamar mandi. Ditambah lagi teras depan dan teras samping berukuran sedang dan halaman yang cukup luas dan asri. Yang paling membuat aku merasa senang dan nyaman selama tinggal di rumah itu adalah karena sudah dikeramik putih bersih, mempunyai teras dan halaman depan yang sangat luas.  Yup, aku paling suka kebersihan, teman dekatku menjuluki diriku sebagai manusia higienis disamping itu hobiku adalah berkebun, tak heran aku suka kegirangan sendiri ketika melihat halaman kosong yang luas itu artinya aku bisa menanam sesuka ku disitu. 
          Sebenarnya dalam blog ku kali ini aku bukannya ingin menceritakan tentang keseluruhan pengalamnku selama mengkikuti SM-3T di Kabupaten Berau, akan tetapi aku mau memfokuskan tentang seseorang. Ya, seorang gadis kecil yang sudah mengubah sudut pandangku tentang sesuatu. Aku akan memperkenalkan gadis kecil itu kepada kalian semua. Dia bernama Nenni Marlini, usianya 14 tahun. Ketika pertama kali aku mengenalnya dia duduk di kelas VII disekolah yang menjadi lokasi pengabdianku.
           Nenni Marlini, dari namanya mungkin kalian mengira dia seorang gadis yang lembut, baik dan feminim. Aslinya Nenni adalah seorang gadis kecil yang tomboi, baik memang, lucu pastinya, dan jahil. Awal pertama aku mengenalnya adalah sewaktu aku pertama kali masuk kelasnya. Aku menyapanya dan seluruh teman dikelas nya. Saat itu aku masuk sebagai guru pelajaran bahasa Inggris (selama menjadi guru SM-3T kami dituntut untuk bisa menjadi guru pelajaran apa saja). Aku mulai dengan memperkenalkan diri sendiri, semua siswa kaget begitu mendengar aku datang dari Medan, Sumatera Utara karena jarak Kalimantan-Sumatera sangat jauh sekali. Setelah memperkenalkan diri aku meminta mereka untuk memperkenalkan diri. Dengan cara, aku yang memanggil mereka satu persatu terus nama yang dipanggil harus berdiri dan memberitahu cita-cita nya dalam bahasa Inggris. Ketika aku menyampaikan peraturan seperti itu, suasana kelas mendadak ricuh karena sebagian besar mereka masih sangat minim tentang pengetahuan bahasa Inggris. Dari keributan yang ku dengar mereka tengah sibuk bertanya kepada temannya "eh, apa bahasa Inggrisnya guru?', "Polisi apakah bahasa Inggrisnya?" Aku hanya bisa tersenyum melihat pola tingkah mereka saat itu.  Agar menghentikan keributan itu, akul langsung mulai untuk mengabsen mereka satu persatu. Mereka boleh bertanya ketika tidak tahu nama pekerjaan dalam bahasa Inggris. Tiba ketika aku memanggil nama siswa itu, "Nenni Marlini", panggilku. Kulihat seorang siswa berdiri dan tersenyum kepadaku. Aku kaget dan heran awalnya. Yang aku panggil nama perempuan tetapi kenapa yang berdiri laki-laki. Kupandangi siswa itu dari atas ke bawah, "ah, ternyata dia perempuan toh dia memakai rok", batinku dalam hati. 
           Siswa itu menjawab dengan pede, "I want to be a sailing" Aku terdiam untuk mencerna kata-kata dari siswa itu, sailing layar kah? adakah disini layar? layar yang besar dan sangat luas itu kah? batinku dalam hati. "Layar nak?" tanyaku dengan heran "Iya miss, atlet layar, hehehe", katanya masih dengan wajah riang penuh senyum "Oh, yes. That's good but it should be SAILOR not SAILING", jawabku sekaligus melanjutkan nama siswa yang lain. Sebanarnya dalam hati aku masih menyimpan banyak pertanyaan tapi waktuku tidak banyak dan masih banyak siswa yang menunggu untuk dipanggil namanya. 
               Selang beberapa hari kemudian, aku dan temanku norita memutuskan untuk makan siang diluar hari ini. Dua orang lagi temanku sedang sibuk di kantor bersama guru-guru lainnya. Sepulang sekolah, kami meletakkan tas kerumah, mengambil payung dan topi setelah itu lanjut kami berdua berjalan menuju pasar untuk mengisi perut. Siang itu cuaca sangat panas, maklum daerah pesisir pantai. Kami yang masih orang baru disana sempat kebingunggan mencari warung nasi disini. Sepanjang jalan kami hanya melihat warung yang menjual sayuran mentah, ikan mentah dan sembako. Sementara cacing di perut sudah protes minta hakknya. Alhasil ketika kami melihat ada warung yang menjual makanan kami langsung masuk saja dan pesan. Ternyata warung itu hanya menjual nasi goreng. Alhasil menu makan siang kami nasi goreng. Tara.. hehe
                  Sepulang kami menyantap makan siang diperjalanan pulang kami jumpa denga seorang siswa cewek, namanya irma kelas VIII. Dari percakapan kami, ternyata anak itu mau latihan layar. Spontan aku membujuk temanku untuk melihat latihan itu. Aku tau cuaca sangat panas tapi gejolak dihati ini lebih menguasai hati. Aku penasaran betul gimana layar versi disini. Karena di pikiranku layar itu seperti di film pirates of Carribean yang sangat besar dan keren. Untungkan temanku ini baik banget dia setuju untuk menemaniku ke tempat latihan layar tersebut. Ternyata letaknya di dermaga dan aku sudah cukup sering melewati tempat itu. Tapi selama aku kesini selalu kosong karena sedang tidak ada jadwal latihan. Tapi hari ini berbeda, tempat ini dipenuhi perahu layar yang berukuran mini-mini dan dipenuhi dengan siswa-siswa ku disekolah. What? haha. Aku gak nyangka ternyata siswa ku semua berkumpul disini dan mereka tenyata adalah atlet layar. Dan benar saja, aku jumpa dengan si Nenni, siswa yang tadi disekolah yang bercita-cita sebagai atlet layar. Hm. Aku paham sudah sekarang, batinku sambil tersenyum.
          

Monday, August 31, 2015

SM-3T

Sebenarnya dari tahun 2013 yang lalu aku sudah pengen betul ikut program SM-3T ini, tapi karena belum mendapat restu dari orang tua akupun batal untuk mendaftar. Orang tua ku khawatir untuk melepasku ke daerah pedalaman selama setahun. Pada tahun 2014 ternyata program SM-3T ini dibuka kembali untuk angkatan ke IV. Akupun merayu orangtuaku kembali untuk mengijinkan aku ikut. Entah kenapa aku merasa terpanggil betul untuk mengikuti program ini, aku ingin membagi ilmu dan pengalamanku ke anak-anak peladalaman di negeri Indonesia ku ini. Alhamdulillah kedua orang tua ku tiba-tiba menyetujui niat ku. Aku senang betul. Aku langsung mengambil laptop dan modem. Kunyalakan laptopku dan ku hubungkan ke internet. Aku langsung mendaftar. Alhamdulillah Allah melancarkan niat baikku ini. Aku lulus test berkas administrasi, lulus test online, lulus test interview, lulus test fisik. Semua test aku selalu diberi kemudahan dan kelancaran oleh Nya.
Tiba saatnya penentuan penempatan, aku berharap betul untuk ditempatkan di provinsi paling timur Indonesia, yaitu PAPUA. Yup, aku pengen betul merasakan tinggal disana. Tapi, ternyata apa yang aku inginkan tidak direstui oleh Tuhan. Aku ternyata ditempatkan di Kalimantan Timur, tepatnya Kabupaten Berau. Jujur, aku takut sekali sewaktu mendengarnya karena dalam pikiranku Pulau Kalimantan itu sangat menyeramkan. Aku sering mendengar dan melihat berita yang tidak baik di media tentang Kalimantan. Tapii, aku tidak bisa mundur. Kontrak sudah kutandatangani. Yang bisa kulakukan hanya berdoa semoga ini yang terbaik untuk ku. 
..............................................................................................................................................
29 Agustus 2014, kami ke 28 peserta diantar oleh koordinator dan dosen kami sampai ke Pulau Kalimantan, Kabupaten Berau. Kami bermalam di hotel Sanggam. Tepat pada hari Minggu, 31 Agustus 2014 kami diantar ke lokasi pengabdian masing-masing. Aku dapat lokasi di Kampung Tanjung Batu, kecamatan Pulau Derawan.

Berani Mengambil Keputusan

"Apa tolak ukur seseorang bisa dikatakan sudah dewasa?
Bagiku, seseorang dikatakan "dewasa" jika salah satunya adalah sudah mampu membuat keputusan dan menanggung sendiri konsekuensi dari keputusan itu.
Dalam hidupku sendiri, aku tentunya sering dihadapkan oleh berbagai macam pilihan yang mengharuskanku untuk cepat mengambil keputusan. "
..........................................................................................................................................................
Perkenalkan, nama lengkapku Erniwati Silitonga. Aku seorang sarjana pendidikan Bahasa Inggris lulusan dari Universitas Negeri Medan (UNIMED), aku lulus tahun 2013. Aku sudah terbiasa bekerja sejak semester  lima. Pekerjaanku selalu mengajar karena aku masuk di jurusan pendidikan. Setelah itu, aku sering sekali pindah tempat kerja karena berbagai alasan. Ketika aku wisuda, tahun 2013 yang lalu alhamdulillah aku langsung diterima bekerja di salah satu lembaga pendidikan yang letaknya tidak jauh dari rumahku, di Binjai. Tempat kerjaku itu termasuk tempat kerja yang paling bagus dikotaku karena selalu dipandang "high class" oleh warga Binjai. Disitu aku bekerja dari pukul 09.00 - 18.00 wib. Aku menghabiskan waktuku dari pagi sampai senja. Gajiku tidak bisa dikatakan besar tapi "lumayan" yaitu Rp. 1.300.000 per bulan. Setelah hampir setahun bekerja disana aku merasa bosan, aku terus bertanya dalam hati, "kalau aku terus bekerja disini sampai menua pasti capek sekali, dari pagi sampai sore harus disini terus, bagaimana mengurus keluarga nanti?" Bukan itu saja, suasana kerja disana pun sudah semakin tidak nyaman kurasa. Akirnya aku putuskan resign dari tempat itu dan akupun menganggur. ....... (bersambung)