Monday, August 31, 2015

SM-3T

Sebenarnya dari tahun 2013 yang lalu aku sudah pengen betul ikut program SM-3T ini, tapi karena belum mendapat restu dari orang tua akupun batal untuk mendaftar. Orang tua ku khawatir untuk melepasku ke daerah pedalaman selama setahun. Pada tahun 2014 ternyata program SM-3T ini dibuka kembali untuk angkatan ke IV. Akupun merayu orangtuaku kembali untuk mengijinkan aku ikut. Entah kenapa aku merasa terpanggil betul untuk mengikuti program ini, aku ingin membagi ilmu dan pengalamanku ke anak-anak peladalaman di negeri Indonesia ku ini. Alhamdulillah kedua orang tua ku tiba-tiba menyetujui niat ku. Aku senang betul. Aku langsung mengambil laptop dan modem. Kunyalakan laptopku dan ku hubungkan ke internet. Aku langsung mendaftar. Alhamdulillah Allah melancarkan niat baikku ini. Aku lulus test berkas administrasi, lulus test online, lulus test interview, lulus test fisik. Semua test aku selalu diberi kemudahan dan kelancaran oleh Nya.
Tiba saatnya penentuan penempatan, aku berharap betul untuk ditempatkan di provinsi paling timur Indonesia, yaitu PAPUA. Yup, aku pengen betul merasakan tinggal disana. Tapi, ternyata apa yang aku inginkan tidak direstui oleh Tuhan. Aku ternyata ditempatkan di Kalimantan Timur, tepatnya Kabupaten Berau. Jujur, aku takut sekali sewaktu mendengarnya karena dalam pikiranku Pulau Kalimantan itu sangat menyeramkan. Aku sering mendengar dan melihat berita yang tidak baik di media tentang Kalimantan. Tapii, aku tidak bisa mundur. Kontrak sudah kutandatangani. Yang bisa kulakukan hanya berdoa semoga ini yang terbaik untuk ku. 
..............................................................................................................................................
29 Agustus 2014, kami ke 28 peserta diantar oleh koordinator dan dosen kami sampai ke Pulau Kalimantan, Kabupaten Berau. Kami bermalam di hotel Sanggam. Tepat pada hari Minggu, 31 Agustus 2014 kami diantar ke lokasi pengabdian masing-masing. Aku dapat lokasi di Kampung Tanjung Batu, kecamatan Pulau Derawan.

Berani Mengambil Keputusan

"Apa tolak ukur seseorang bisa dikatakan sudah dewasa?
Bagiku, seseorang dikatakan "dewasa" jika salah satunya adalah sudah mampu membuat keputusan dan menanggung sendiri konsekuensi dari keputusan itu.
Dalam hidupku sendiri, aku tentunya sering dihadapkan oleh berbagai macam pilihan yang mengharuskanku untuk cepat mengambil keputusan. "
..........................................................................................................................................................
Perkenalkan, nama lengkapku Erniwati Silitonga. Aku seorang sarjana pendidikan Bahasa Inggris lulusan dari Universitas Negeri Medan (UNIMED), aku lulus tahun 2013. Aku sudah terbiasa bekerja sejak semester  lima. Pekerjaanku selalu mengajar karena aku masuk di jurusan pendidikan. Setelah itu, aku sering sekali pindah tempat kerja karena berbagai alasan. Ketika aku wisuda, tahun 2013 yang lalu alhamdulillah aku langsung diterima bekerja di salah satu lembaga pendidikan yang letaknya tidak jauh dari rumahku, di Binjai. Tempat kerjaku itu termasuk tempat kerja yang paling bagus dikotaku karena selalu dipandang "high class" oleh warga Binjai. Disitu aku bekerja dari pukul 09.00 - 18.00 wib. Aku menghabiskan waktuku dari pagi sampai senja. Gajiku tidak bisa dikatakan besar tapi "lumayan" yaitu Rp. 1.300.000 per bulan. Setelah hampir setahun bekerja disana aku merasa bosan, aku terus bertanya dalam hati, "kalau aku terus bekerja disini sampai menua pasti capek sekali, dari pagi sampai sore harus disini terus, bagaimana mengurus keluarga nanti?" Bukan itu saja, suasana kerja disana pun sudah semakin tidak nyaman kurasa. Akirnya aku putuskan resign dari tempat itu dan akupun menganggur. ....... (bersambung)